Apa Gunanya Bertemu Banyak Orang?

Assalamu'alaikum makhluk-makhluk kecteh...
Apa kabar nih?

Setelah sekian lama blog ini saya anggurin, niat untuk merapikan tulisan belum kunjung tercapai nih. Karena masih banyak hal-hal yang menjadi fokus utama saya hehe
Tapi tiba-tiba saja rindu menorehkan pena disini hadir. Jadi saya ingin bercerita sedikit bagaimana saya belajar untuk bisa menyesuaikan diri dengan orang-orang yang saya temui selama saya meninggalkan blog ini. Yuk luangkan waktu sejenak, boleh kok sediain cemilan buat nemenin baca tulisan saya :)

Sebagaimana kita tahu, bahwa setiap orang memiliki karakter yang unik dan merupakan ciri khas dari dirinya. Hal itu terbentuk dari bagaimana orang tersebut tinggal, pola asuh, lingkungan, pergaulan dan pendidikannya. Kita banyak menemukan dalam keseharian kita seperti ke kantor, dunia kampus, sekolah, organisasi, dan sebagainya. Itu semuanya merupakan rutinitas kehidupan yang kita jalani. Dari sanalah kita bertemu dengan orang-orang yang berbeda sikap, cara berpakaian, cara bicara, cara mereka menyampaikan pendapat dan masih banyak lagi. Lalu bagaimana seharusnya kita menyikapi mereka?

Pertanyaan tersebut telah membuat saya berpikir untuk mencari jawabannya. Karena waktu, situasi, kondisi sangat mungkin berubah. Maka saya juga harus bisa mengikuti perubahan yang ada disekitar, selama nafas belum sampai dikerongkongan. Artinya sebagai makhluk hidup yang bersosialisasi dan saling membutuhkan, bukankah semestinya kita bersikap baik dan berlemah lembut? Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: "Mudahkanlah dan jangan kalian persulit, berilah kabar gembira dan janganlah kalian membuat orang lari." (HR. Bukhari no.69 dan Muslim no.1764 dari Anas bin Malik)

Dan juga firman Allah ta'ala:
"Dengan sebab rahmat Allah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentu mereka akan menjauh dari sekelilingmu." (QS. Ali-Imran:159)

Namun sayangnya yang saya temui justru perlakuan kasar orang lain terhadap saya dan sikap merendahkan bahkan menyepelekan. Hal ini menimbulkan dilematis bagi saya. Ironinya justru orang-orang terdekatlah yang berlaku seperti itu. Apakah yang salah? Maka proses pencarian saya akan jawaban menyikapi orang lain tidak berhenti sampai disitu.

Kira-kira cara berpikir abstrak, baru saya miliki di umur belasan tahun, ya sekitar usia 18-20 tahun. Saya merasakan peralihan dari masa-masa SMA ke perkuliahan yang membuat pendewasaan perlahan-lahan mulai terbentuk. Lalu apa istimewanya? Bukankah memang sudah seharusnya begitu? Ya, benar. Tidak ada yang luar biasa disini, tetapi saya ingin tekankan bahwa seberapa jauh pemahaman kita tentang keadaan diri kita sendiri? Selain memikirkan orang lain dan permasalahan-permasalahan yang kita hadapi, pernahkah kita memikirkan bagaimana keadaan kita berdasarkan kaca mata orang lain dan lingkungan sehingga kita bisa mengenal lebih jauh diri kita sendiri. Bukan berarti setiap komentar, kritik, dan saran orang lain harus diterima begitu saja. Tetapi sebelum orang lain mengubahnya, seharusnya kita jauh lebih peka terhadap kebutuhan diri kita sendiri. Karena kita yang merasakan dan kita yang lebih memahami seperti apa keadaannya.

Dari sanalah saya bisa memahami, bahwa sebenarnya belum tentu sikap buruk orang lain terhadap kita adalah karena niatnya yang buruk. Bahkan ada kemungkinan mereka yang menyakiti kita tidak menyadari perlakuannya itu membuat kita sakit. Makanya ketika kita berusaha mencari kebenaran, justru malah memunculkan pertikaian dan keduanya saling membela diri masing-masing. Kenapa pula orang-orang terdekat yang berpotensi melakukan hal tersebut? Jawabannya karena merekalah yang telah mengenal kita, mereka yang tahu kita seperti apa. Sehingga sangat mungkin mereka mengetahui kelemahan kita.

Begitu pula ketika kita berlaku yang menurut kita baik, kadang kala kita sering dapati balasan yang justru kurang enak diterima. Kemudian kita merasa hal tersebut tidak setimpal. Lalu menganggap kita benar dan mereka salah. Padahal disaat-saat hati mulai bergejolak berkeinginan marah, disitulah terdapat dua pilihan yang bisa kita ambil: memperturutkan hawa nafsu atau kita memilih menggunakan akal sehat.

Tidak selamanya kebaikan selalu berbalas kekecewaan. Tapi kalau segalanya yang kita dapati baik-baik saja tanpa pernah terluka, pasti kita tidak pernah dewasa dan tidak bisa memahami keadaan orang lain. Bisa jadi kita tidak perduli sekitar dan hanya mementingkan diri sendiri, karena apa yang kita inginkan selalu kita dapati tanpa pernah mendapat teguran.

Kemudian kita pasti sering menemukan sikap orang yang begitu halusnya saat berbicara didepan, tapi ternyata mereka bisa mencela juga dibelakangnya. Sampai saya terheran-heran mengapa manusia memiliki watak seperti itu. Belum pernah saya temui satu orang pun yang perkataannya tidak pernah mengeluarkan ucapan negatif selama hidupnya.

Lalu saya menyadari, Allah saja sebagai Tuhan dan kitab-kitabnya (Injil, Taurot, Zabur, Al-Qur'an) bisa dicela oleh manusia, lantas bagaimana dengan kita yang hanya seonggok daging bergerak yang jelas-jelas hanya manusia biasa, sangat mungkin untuk dihinakan. Digosipin, dinistakan, direndahkan, dan perlakuan tidak enak lainnya pasti dialami oleh manusia yang hidup, makanya ada pernyataaan bahwa "Hidup itu Keras". Tetapi ketika kita mengalami hal tersebut, kita harus ingat bahwa semua manusia yang hidup pasti merasakannya. Bukan hanya kita saja satu-satunya yang pernah diperlakukan demikian.

Ada hari dimana saya bisa menjadi berlapang dada, yaitu ketika menjadi tempat curhat orang-orang. Sesekali kita harus bisa menyediakan telinga untuk mendengar bagaimana kesedihan, penyesalan, kemarahan dan berbagai problem orang lain. Terlepas dari benar atau salah, dari sana kita bisa mengambil pelajaran bahwa masalah yang kita hadapi sebenarnya tidak serumit dan sebesar yang kita bayangkan. Justru ada banyak masalah orang lain yang jauh lebih berat dibandingkan yang kita sedang alami. Meski ini terdengar klise, tetapi hal ini benar-benar menyadarkan.

Jadi, barang kali bisa ditarik kesimpulan: tidak akan pernah ada manusia yang selalu baik, selalu benar perbuatannya, selalu tulus hatinya, tidak pernah marah sedikitpun, selalu ada disaat kita membutuhkan selama 24 jam setiap hari, selalu bersedia menolong layaknya pahlawan, selalu rela berkorban dengan siapapun, tidak pernah melawan, dan selalu selalu lainnya yang dianggap ideal oleh kita semua. Bahkan diri kita pun, bisa berada diposisi jahat dan menyakiti orang lain tanpa kita sadari dan bermaksud demikian.

Maka dalam menyikapi setiap orang, sebaiknya berlemah lembut namun tetap tegas. Jika kita tidak suka, ada baiknya kita sampaikan dengan sopan dan tidak merendahkan. Tapi bila ternyata malah memperkeruh keadaan, lebih baik diam daripada menyakiti. Karena lisan yang terucap tidak pernah bisa ditarik kembali. Setiap kali kita dapati permasalahan, ingat bahwa setiap masalah selalu ada jalan keluarnya. Sebagaimana yang tertuang dalam ayat berikut: "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan pasti ada kemudahan. Sesudah kesulitan pasti ada kemudahan." (QS. Asy-Syarh: 5-6).

Allahu'alam...

Semoga tulisan ini bisa menjadi pencerah bagi kita semua yang dirundung duka dan masalah. Begitu juga sebagai pengingat bagi saya pribadi dan pembaca. Terima kasih telah bersedia membaca. Semoga bermanfaat :)





Komentar

  1. betul min bertemu banyak orang itu sangat perlu, karena untuk membangun jati diri kita

    BalasHapus
  2. @TioNote : makasih udah jadi yg pertama hehe

    BalasHapus
  3. @RikiWinarto : semoga bisa dipraktekkan gan :)

    BalasHapus
  4. dengan bertemu banyk orang juga bisa membuat mental menjadi baik dan juga memperluas pergaulan pastinya

    BalasHapus
  5. @KitkatPedia : yups, setuju deh sama agan hehe

    BalasHapus
  6. @UjaeBob : Alhamdulillah kalo gitu gan

    BalasHapus
  7. @IkbalNurhakim : iya bener, jadi buat melatih kesiapan mental saat berhadapan dengan orang lain dan jadi banyak temen

    BalasHapus
  8. @DimasPrayoga : wah syukur deh..

    BalasHapus
  9. Untuk org introvert bertemu banyak org kadang menhindar heu..
    Doakan mudah2an di lancarkan

    BalasHapus
  10. request min, bagai mana cara menghilangkan rasa malu

    BalasHapus
  11. @AdamAkbar : saya juga introvert kok hehe makanya selalu butuh me time walau beberapa jam. Aamiin, semoga diberi kelancaran ya mas

    BalasHapus
  12. @FriscaImilda : kembali kasih ya kak

    BalasHapus
  13. @M.zul1n : hmm boleh juga tuh ide nya, ditunggu aja gan hehe terima kasih

    BalasHapus
  14. Betul banget, setuju saya min

    BalasHapus
  15. @AkmalJihadi : oke, thanks gan udah mampir

    BalasHapus
  16. alhamdulillah dapet pencerahan dari artikel ini makasih.

    BalasHapus
  17. setuju nih sama artikel ini, nice info gan sangat bermanfaat :D

    BalasHapus
  18. Kita sama-sama mengalami hal serupa haha. Tapi kejadian direndahkan, adu argumen, diskusi dan lain sebagainya ngajarin kita buat jadi lebih dewasa dan lapang dada dan lebih berpikiran terbuka. Makasih tor sudah mengingatkan

    BalasHapus
  19. Bagus infonya gan, manusia itu makhluk sosial so we need each other, right ?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer