Inilah 5 Persiapan Pernikahan Yang Harus Kamu Miliki
![]() |
| Source: Google |
Setelah sekian lama tidak menulis di blog, kali ini penulis datang dengan membawa tema pernikahan.
Kenapa memilih tema ini? Well, karena penulis sedang
giat-giatnya mempelajari ilmu pernikahan dan parenting.
Sebab di usia yang semakin dewasa ini penulis pingin banget
mempersiapkan diri sebagai bekal menikah nanti.
Mengubah dari hanya sekadar ingin dan ingin menjadi siap dan
siap.
Ketahuan banget kan ngebetnya hehe.. Nggak apa-apa lah, kan
bagian dari ikhtiar.
Sebelum masuk ke materi inti dari artikel ini, penulis
kepingin tahu apa sih yang terlintas di benakmu pertama kali saat mendengar
kata pernikahan?
Apakah menikah itu adalah prosesi menyatukan kedua anak
manusia untuk mengikat janji suci, atau jika kamu organisator banget kamu akan
berpikir menikah itu adalah prosesi menyatukan visi misi kehidupan dari dua
kepala yang berbeda, ataukah jangan-jangan ada yang berpikir kalo menikah itu
adalah acara makan-makan bersama di pesta yang meriah dengan tamu-tamu yang
berdatangan dan menjadi raja/ratu dalam waktu sehari?
Tidak ya, itu sih pikiran anak kecil banget kayaknya.
Definisi tentang pernikahan yang beragam bagi banyak orang
memanglah berbeda, tergantung bagaimana pemahaman mereka dan apa yang mereka
pelajari.
Sekarang kita akan masuk ke pembahasan mengenai 5 Persiapan
Pernikahan yang banyak orang pikirkan.
Barangkali sebagian dari kita bertanya-tanya ketika dirinya
sudah memiliki hasrat untuk menikah, bagaimana sih membangun rumah tangga?
Apa syarat dan persiapan yang harus saya miliki jika saya
ingin menikah? Berikut penjelasannya:
- 1. Persiapan Ruhiyah (Spriritual)
Persiapan ruhiyah menjadi penting sebagai
pijakan pertama di awal pernikahan. Inilah yang paling mendasar yaitu soal
niat.
Seperti apa niat untuk menikah? Berniat
untuk menikah berarti telah siap dengan tanggung jawab dan tugas yang berkali
lipat diemban.
Sebab kesendirian adalah ujian, mencari
jodoh juga ujian, setelah berjodoh pun juga penuh dengan ujian.
Disinilah posisi dimana seseorang itu
sedang menata dirinya, mendekatkan dirinya kepada Allah dan rajin meminta
kepada-Nya dengan berdoa.
Maka menikah tidak harus bersama dia, orang
yang kita taksir, tetapi menikah haruslah karena Dia (Allah).
Sehingga ketika meminta kepada Allah tidak perlu
memaksa ingin dipasangkan dengan dia, seperti: “Ya Allah, bila dia jodohku maka
dekatkanlah, tetapi jika dia adalah jodoh orang lain maka putuskanlah dan
jodohkan aku dengannya.”
Sebab jodoh itu sudah Allah tulis jauh
sebelum kita dilahirkan, jadi tidak usah takut apalagi ngotot ingin menikah
dengan dia.
Namun jatuh cinta itu wajar dan tidak ada
larangan dalam Islam. Tapi bagaimana kita bisa menjaga hati dan tetap
menyerahkan keputusan terbaik di tangan Allah.
Dalam QS. Ali Imran ayat 14 yang berbuyi, “Dijadikan
terasa indah dalam pandangan manusia, cinta terhadap apa yang diinginkan,
berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk
emas dan perak, dan sawah ladang. Itulah kesenanngan hidup di dunia, dan di
sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.”
Maka memang sudah menjadi ujian setiap
manusia bahwa pada saat kita masih sendiri keinginan memiliki pasangan menjadi
ujian.
Namun saat sudah memiliki pasangan ujian
kita bertambah dengan adanya anak, harta, gengsi dan investasi.
Sehingga dalam persiapan ruhiyah ini kita
diajarkan untuk selalu sabar dan bersyukur atas apa yang kita miliki saat ini
dalam menghadapi tantangan-tantangan tersebut.
Perlu digaris bawahi juga bahwa setiap
pasangan tidak ada yang sempurna.
Seperti pepatah Arab yang mengatakan, “Barang
siapa yang mencari teman tanpa kekurangan (aib) niscaya dia akan hidup seorang
diri.” Hal ini serupa ketika kita akan mencari teman hidup.
Sehingga persiapan ruhiyah juga termasuk
dari mengubah ekspektasi menjadi sebuah obsesi.
Jika kamu berpikir menikah biar kemana-mana
tidak sendirian, biar di rumah ada yang masakin, ketika kamu lelah ada yang
mijitin, itu semua adalah ekspektasi.
Tapi jika kamu berpikir menikah untuk
bekerjasama membangun rumah tangga sampai ke syurga, menikah untuk bersama-sama
memperbaiki diri menjadi soleh dan solehah, itu baru obsesi.
- 2. Persiapan Ilmiyah (Intelektual)
Menikah itu meliputi banyak hal seperti fiqih,
komunikasi pasangan, parenting, manajemen dan lain sebagainya.
Maka menikah jelas butuh ilmu dan yang
sudah memiliki ilmunya saja terkadang belum tentu bisa mempraktekkannya secara
langsung ketika dihadapkan pada kenyataan.
Mengikuti pengajian dan membaca buku-buku
sebagai betuk usaha minimal mempelajari ilmu syar’i yang dibutuhkan dalam
hidup, berinteraksi dan berkeluarga.
Begitu juga berkomunikasi dengan pasangan, seringnya
masalah itu muncul bukan karena ada maksud jahat, melainkan kurangnya
pengetahuan atau pemahaman.
Bahwa antara perempuan dan laki-laki itu
berbeda karakternya, dari segi saat menghadapi tekanan dan permasalahan
misalnya.
Wanita yang lebih ingin didengarkan ketika
menghadapi masalah, bercerita kepada orang lain, bahkan sampai menangis agar
hatinya lega, wanita itu ingin dimengerti, diberi empati.
Sedangkan laki-laki ketika menghadapi
masalah ia lebih memilih untuk menyendiri, berkontemplasi, merumuskan solusi
dari masalahnya.
Maka berikan ia waktu untuk berpikir dan
menenangkan diri, bukannya ditanya-tanya dan dipaksa untuk bercerita dengan
dalih, “Kamu nggak percaya sama aku ya? Aku aja kalo punya masalah selalu
cerita ke kamu.”
Begitu juga wanita yang sifatnya suka
memberi kode, misalnya di perjalanan si wanita mengatakan, “Itu ada warung
masakan Padang tuh mas.”
Kemudian sang suami hanya menjawab, “Iya
sudah tahu.”
Beberapa menit kemudian sang istri bertanya
, “Kamu nggak laper mas?”
Laki-laki yang kurang peka akan menjawab, “Nggak,
belum lapar nih.”
Terus sampai di rumah, sang istri tersebut
memasak mie instant dengan tangan gemetaran. Lalu suaminya berpikir dalam hati,
“Oh, ternyata dia lapar ya, kenapa nggak bilang.”
Seiring waktu berjalan, belum puas belajar
menjadi seorang suami/istri tiba-tiba
saja sudah menjadi seorang ayah/ibu dengan diberinya keturunan.
Maka segeralah belajar menjadi orang tua,
belajar bagaimana mendidik anak.
Belajar bagaimana menenangkan anak saat dia
menangis, umumnya orang tua akan berbohong dengan mengatakan, “Diem ya nanti
ibu beliin permen.” Kemudian tidak diberi permennya.
Hal semacam itu akan menumbuhkan sifat suka
berjanji tapi tidak ditepati pada anak.
Membuat bahan bercandaan karena ukuran
tubuh si anak atau warna kulitnya.
Meskipun terdengar lucu atau menganggap si
anak masih kecil dan belum mengerti, tetapi akan menumbuhkan anak dengan sifat
pemalu dan kurang percaya diri nantinya.
- 3. Persiapan Jasadiyah (Fisik)
Mulai sekarang memperhatikan apa yang masuk
ke dalam tubuh adalah tugas penting.
Kita perlu mengatur pola makan dan memakan
makanan sehat lagi bergizi.
Memperiksakan diri ke dokter dan
berkonsultasi bila ada kemungkinan penyakit bawaan dalam tubuh, lebih-lebih
bila itu termasuk penyakit reproduksi.
Berolahraga sebagai aktifitas yang
dilakukan secara rutin meski seminggu satu kali agar stamina tetap terjaga.
Mebangun kebiasaan olahraga yang tak asal
gerak, tapi juga menyehatkan dan melatih ketahanan.
Sebab tugas fisik saat menjadi seorang
suami/istri berkali-kali lipat setelah menikah.
Sehingga tiga target persiapan fisik
pernikahan meliputi tiga tingkatan, yaitu Premier: sehat dan aman; Sekunder:
bugar dan tangkas; dan Tersier: cantik dan menarik.
- 4. Persiapan Maaliyah (Finansial)
Konsep awal dalam pernikahan tugas suami
adalah menafkahi, bukan mencari nafkah.
Nah bekerja itu adalah keutamaan dan
penegasan kepemimpinan suami.
Persiapan finansial tidak membicarakan
berapa jumlah uang, rumah dan kendaraan yang dipunya.
Melainkan berbicara tentang kapabilitas
menghasilkan nafkah, mengupayakan untuk menafkahi sebagai wujudnya dan
kemampuan mengelolanya.
Maka menikah itu bukan soal apa kamu sudah
punya rumah, kendaraan dan tabungan, melainkan soal kompetensi dan kehendak
baik untuk menafkahi.
Seperti yang tertuang dalam QS. An-Nur ayat
32 yang berbunyi, “Dan nikmatilah orang-orang yang masih membujang di antara
kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang
laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan
kepada mereka dengan kaarunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemperian-Nya), Maha Mengetahui.”
- 5. Persiapan Ijtima’iyah (Sosial)
Sebagi bagian dari pendewasaan mengasah
keterampilan sosial sangatah perlu.
Membiasakan mengkomunikasikan
prinsip-prinsip yang diyakini terkait pernikahan dan kehidupan kepada orang tua
bisa menjadi bagian dari latihan.
Mempersiapkan diri mengikuti kegiatan
kemasyarakatan demi berkontribusi menjadi panitia 17 Agustusan, menjadi panitia
pemilu, mengikuti kegiatan kerja bakti, dan sebagainya.
Ilmuilah bagaimana cara mengurus jaminan
kesehatan miskin, beasiswa tidak mampu, biaya RS, mobil jenazah gratis, dan
lain sebainya demi tetangga kita.
Menampilkan diri sebagai orang yang penting
dan bermanfaat dalam hajat-hajat kebahagiaan maupun duka tetangga, juga
rayaan-rayaan sosial masyarakat.
Demikianlah 5 Persiapan Pernikahan yang
menjadi pertimbangan bagi banyak orang.
Jadi menikah itu jelas membutuhkan
persiapan.
Artinya sesuatu yang kita kerjakan dalam
proses yang tak berhenti.
Sehingga kita bisa mengukur seberapa banyak
dari persiapan diatas yang sudah bisa kita capai untuk menikah.
Ukurannya tentu saja menjadi sangat
relatif.
Karena setiap pencapaiannya hakikat proses
persiapan adalah juga sebagai proses perbaikan diri yang kita lakukan sepanjang
waktu.
Maka setelah menikah pun sebaiknya kita
tetap memperhatikan apa-apa yang menjadi persiapan menikah itu sebagai bentuk
introspeksi diri.
Lalu, kapan kita menikah?

Komentar
Posting Komentar