Akulah Sahabatku
Lihatlah aku. Aku ingin berteman pada
diriku. Dengan baik ku kenal siapa aku sebenarnya. Mencari tahu apa yang aku
inginkan. Berhenti menghakimi diri sendiri. Bahwa aku juga pantas bahagia. Aku
pantas mendapatkan kebebasan. Namun kebebasan seperti apa? Entahlah, rasanya
sulit untuk dijelaskan. Begini saja, ku ceritakan dahulu mengenai prosesku
menemukan siapa aku. Dari situ bisa kita lihat bersama, betapa perlunya cinta
itu datang lebih awal pada diri sendiri sebelum cinta untuk orang lain.
Bila banyak yang mengatakan bahwa cinta
itu bersemayam di hati dan fikiran, rasanya aku setuju dengan pernyataan itu.
Memanglah sulit untuk menunjukkan sesuatu yang sifatnya abstrak, tidak bisa
disentuh, namun masih bisa dilihat dari sikapnya. Sekarang biarkan jari
jemariku menari diatas kertas, membuat tulisan-tulisan indah yang akan
membuatmu terpana membacanya-percayalah.
“Bangunlah! Ini sudah siang. Tidak baik
masih tidur di pagi hari. Nanti kamu bisa jadi pemalas, Sari.”
Begitulah ibuku, selalu mengomel saat
melihatku tertidur ketika matahari mulai menampakkan sinarnya di pagi hari. Ya,
ku akui, ibuku memang benar. Tidak baik masih tertidur di pagi hari. Namun aku
punya alasan untuk itu.
“Hoaam.. Sari masih ngantuk, Bu. Semalam
gak bisa tidur.” Jawabku.
“Ya itu karena kamu tidurnya gak
teratur. Hari gini masih tidur. Nanti bangun-bangun udah siang. Gimana malemnya
mau tidur cepat?”, sahut ibuku.
Tidak ada yang salah dengan perkataan
itu. Dan aku pun hanya diam. Lalu beranjak dari tempat tidurku, kemudian menuju
ke kamar mandi. Bersiap-siap, bergegas ke kampus. Entah ada kisah apa lagi di
kampus. Yang ku tahu, aku adalah Sari. Wanita bertubuh gemuk, jerawatan, suka
ngemil, hobby nonton dan pendiam. Aku memang tidak banyak teman. Tapi aku
selalu berusaha berteman dengan siapa saja tanpa pandang buluh. Pikirku
semuanya sama saja, datang ketika butuh dan pergi saat yang dia inginkan dariku
sudah didapatkan.
Kali ini aku belajar mengenai
kepribadian. Ya, manusia erat kaitannya dengan kepribadian. Dan aku setuju
dengan teori Sigmund Freud yang mengatakan bahwa setiap individu memiliki
pribadi yang unik. Kepribadian seseorang itu terbentuk dari beberapa faktor,
yaitu faktor genetik, faktor dari dalam diri individu itu sendiri dan juga
faktor lingkungan.
Lantas apa hubungannya kepribadian
dengan mencintai diri sendiri? Tentu ada. Menurutku sebelum sampai pada titik
dimana kita merasa bahwa cinta itu hadir dari dalam diri, maka diperlukan
pemahaman mengenai seperti apa kepribadian kita. Hingga mengetahui apa saja
kelebihan dan keunikan kita yang belum tentu orang lain memilikinya.
Suatu hari, aku menjauh dari keramaian.
Merenungi apa yang ku alami, apa yang harusnya aku lakukan. Aku ingin
menciptakan suasana baru. Ketika perasaan bersalah datang pada diriku, aku
mengalami peperangan dalam diriku sendiri─antara logikaku dan perasaanku. Yang
manakah harusnya aku dengarkan? Apakah logikaku? Ataukah perasaanku? Entahlah.
Dan saat itu terjadi, tak ada satu pun yang mampu memberikan jawaban yang ku
cari.
Ketika itu aku mulai berfikir, segalanya
tampak nyata dan bukan seperti apa yang aku harapkan. Bagaimana mewujudkan
mimpiku agar disaat semuanya terjadi, aku bisa mencubit kedua pipiku sembari
tersenyum dan berkata,”Ini benar-benar terjadi.” Haruskah aku menjadi sekokoh
pohon jati yang takkan goyah meski terkena terpaan angin dan hujan? Ataukah
menjadi bunga mawar yang dengan elegannya menjadi daya tarik bagi siapa saja
memandangnya, tapi menjadi menyakitkan bila menyentuhnya? Aku rasa semua itu
adalah pilihan. Tidak mudah bukan mengartikan diri kita sendiri? Karena ada
banyak definisi dari seorang manusia didalam dirinya.
Fikiranku menggambarkan atas apa saja
yang aku lakukan hari itu dan pada hari-hariku yang telah lalu, ku temukan arti
dari sahabat sesudahnya. Bukankah yang namanya sahabat adalah mereka yang
menjadi teman baik kita saat senang maupun susah. Sahabat adalah ia yang
mengerti bahkan memahami kita lebih dari keluarga. Ia yang selalu ada dan bisa
dikatakan sepenanggungan, rela berbagi banyak hal dan mau mengingatkan saat
kita salah dalam bertindak. Dan masih banyak lagi, yang pada intinya dimana
lagi bisa kita temukan itu semua selain pada diri kita sendiri?
Timbullah pertanyaan dalam benakku.
Adakah lagi orang lain yang bisa ku
harapkan tanpa pernah mengecewakan selain diriku? Siapakah orang yang
mengenalku, memahamiku, mengerti aku bahkan saat semuanya menyalahkanku atas
apa yang sudah aku perbuat jikalau bukan diriku sendiri? Kapan terakhir kali
diri kita membandingkan dengan diri orang lain? Mungkin ada baiknya kita
berkaca. Lihatlah tampak seperti apa diri kita saat ini. Dan aku percaya, bahwa
diriku begitu berharga. Bisa jadi dunia takkan lengkap bila tanpaku saat ini.
Lalu haruskah aku berubah? Bukankah
setiap kehidupan memang membutuhkan perubahan? Dulu aku begitu kecil tak bisa
bicara, tak bisa berjalan ataupun berlari, yang ku lakukan hanya menangis agar
orang lain mau mengerti. Tapi sekarang, semuanya bisa ku lakukan sendiri. Tak
bisakah aku menghargai hidupku sendiri? Lantas jika aku saja tidak menghargai
hidupku, diriku sendiri, apa orang lain mau menghargaiku? Rasanya kita perlu
berdamai pada perbedaan. Berhenti membanding-bandingan hidup kita dengan hidup
orang lain. Semuanya memiliki jalannya masing-masing. Jika hidup ini saja
adalah pilihan. Maka aku memilih berdamai pada diriku sendiri. Karena rela ku
permalukan, rela ku salahkan dan rela melakukan apa saja selama yang aku
inginkan.
Itulah proses dimana aku mencintai
diriku sendiri. Sebagai bentuk cintaku pada diriku ialah mensyukuri apa yang
ada pada diriku. Segala yang terjadi menimpa diriku adalah hal yang wajar. Aku
yakin masalah yang datang silih berganti, tidak hanya menghampiri hidupku saja,
tetapi juga pada orang lain. Kan ku jaga diriku dengan sebaik-baiknya.
Nikmatilah segala ceritanya dan percayalah bahwa akhirnya akan bahagia.
Untukmu para pembaca, terimakasih telah
menyempatkan waktunya untuk tulisanku ini. Buatlah dirimu bangga telah lahir ke
dunia ini dan menjalani hari-hari penuh cerita. Baik itu lucu, menyenangkan,
menyedihkan, menakutkan, dan lain sebagainya. Yakinilah dirimu adalah
satu-satunya dan tidak ada yang menyamakanmu. Lihatlah orang-orang yang kamu
merasa bahwa dia adalah cerminan dirimu, seperti sahabat, teman dekat, kekasih,
ataupun sanak saudara, ada hal yang tidak mereka miliki dari apa yang kamu
miliki dalam dirimu.
Bukan tanpa batas untuk berkaca, melihat
diri kita yang sebenarnya. Harusnya kita jauh lebih mengenal diri kita sendiri
bukan? Bila terkadang masih sering tersirat dalam fikiran, siapakah kita
sebenarnya? Seberapa pentingnya kita berada disini? Dan apa yang kita cari,
kita inginkan, kita butuhkan? Hingga akhirnya, waktulah yang menjawab semua
pertanyaan-pertanyaan itu. Sampailah pada titik dimana kita menyadari bahwa
betapa bersyukurnya bersahabat pada diri sendiri.
Komentar
Posting Komentar